UPGRIS : Magang Satu Kali Mana Cukup ?
Oleh Andaru Mahayekti

Description: IMG-20170830-WA0033.jpg
(Uswatun Hasanah, peserta magang 3 UPGRIS  berfoto dengan murid-muridnya)

Magang, kata yang sangat familiar apabila kamu adalah lulusan sekolah kejuruan (SMK) atau seorang mahasiswa. Bagaimana tidak, menjelang akhir masa pendidikan (SMK/Kuliah) kamu akan disuruh atau lebih tepat memang diwajibkan untuk mengikuti magang sebagai pelengkap kelulusan.

Tidak tanggung-tanggung instansi yang dipilih sebagai tempat magang juga harus sesuai jurusan dan keahlian kamu. Lalu apasih magang itu sebenarnya ?
Dalam buku KBBI, “magang” adalah kata yang mempunyai arti sebagai calon pegawai (yang belum diangkat secara tepat serta belum menerima gaji atau upah karena dianggap masih dalam taraf belajar). Bisa dikatakan magang merupakan suatu langkah awal untuk bertemu, mengenal, dan berinteraksi secara langsung dengan dunia kerja.
“Magang itu latihan langsung di lapangan, main peran kayak guru sungguhan, ngajar juga”. ujar Uus, mahasiswi UPGRIS semester 7 peserta magang untuk ketiga kalinya itu.
Sebagai universitas swasta yang berbasis pendidikan keguruan. Universitas PGRI Semarang atau lebih dikenal dengan UPGRIS / IKIP, adalah universitas petelur guru-guru pendidik dan pengajar generasi-generasi muda.
Menjadi calon guru yang akan digugu lan ditiru. Kemampuan pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional adalah 4 kompetensi dasar yang harus dikuasai. Dengan metode learning by doing dalam magang, mahasiswa diharapkan lebih memahami empat kompetensi tersebut.
“Kalau menurutku, UPGRIS menyelenggarakan magang secara bertahap, berbeda dari perguruan tinggi lain hanya satu kali, PPL” ujar Uswatun Hasanah atau Uus menjelaskan.
Uniknya, berbeda dengan universitas lain yang sama-sama berbasis pendidikan keguruan. UPGRIS mewajibkan mahasiswanya untuk mengikuti magang sampai tiga kali. Magang satu dilaksanakan selama 1 minggu, magang dua selama 2 minggu dan magang tiga selama 6  minggu.
Uswatun menuturkan setiap tahapan magang memiliki tujuan yang berbeda. Pada magang 1 ditujukan untuk pengenalan sekolah, magang 2  mulai diperkenalkan dan mencoba membuat  perangkat pembelajaran guru, kemudian di magang 3 peserta magang sudah diminta untuk memainkan langsung peran sebagai guru di sekolah latihan.
“Menurutku cara itu baik agar kita bisa lebih paham. Namun, akan lebih baik lagi  jika pada penempatan magang 1,2,3 tetap sama, biar gak susah adaptasi lingkungan sekolah yang berbeda lagi” imbuh Uus sebagai harapan kepada UPGRIS agar sistem pelaksanaan magang lebih baik lagi untuk adik tingkatnya.







Penulis:
Andaru Mahayekti - Universitas PGRI
Finalis Citizen Journalist Academy - Energi Muda Pertamina Semarang


--and--


Komentar

Postingan Populer