UPGRIS :
Magang Satu Kali Mana Cukup ?
Oleh Andaru
Mahayekti

(Uswatun
Hasanah, peserta magang 3 UPGRIS berfoto
dengan murid-muridnya)
Magang, kata yang sangat familiar apabila kamu adalah
lulusan sekolah kejuruan (SMK) atau seorang mahasiswa. Bagaimana tidak,
menjelang akhir masa pendidikan (SMK/Kuliah) kamu akan disuruh atau lebih tepat
memang diwajibkan untuk mengikuti magang sebagai pelengkap kelulusan.
Tidak tanggung-tanggung
instansi yang dipilih sebagai tempat magang juga harus sesuai jurusan dan
keahlian kamu. Lalu apasih magang itu sebenarnya ?
Dalam buku KBBI, “magang”
adalah kata yang mempunyai arti sebagai calon pegawai (yang belum diangkat
secara tepat serta belum menerima gaji atau upah karena dianggap masih dalam
taraf belajar). Bisa dikatakan magang merupakan suatu langkah awal untuk
bertemu, mengenal, dan berinteraksi secara langsung dengan dunia kerja.
“Magang itu latihan
langsung di lapangan, main peran kayak guru sungguhan, ngajar juga”. ujar Uus,
mahasiswi UPGRIS semester 7 peserta magang untuk ketiga kalinya itu.
Sebagai universitas
swasta yang berbasis pendidikan keguruan. Universitas PGRI Semarang atau lebih
dikenal dengan UPGRIS / IKIP, adalah universitas petelur guru-guru pendidik dan
pengajar generasi-generasi muda.
Menjadi calon guru yang
akan digugu lan ditiru. Kemampuan
pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional adalah 4 kompetensi dasar yang
harus dikuasai. Dengan metode learning by doing dalam magang,
mahasiswa diharapkan lebih memahami empat kompetensi tersebut.
“Kalau menurutku, UPGRIS
menyelenggarakan magang secara bertahap, berbeda dari perguruan tinggi lain
hanya satu kali, PPL” ujar Uswatun Hasanah atau Uus menjelaskan.
Uniknya, berbeda dengan
universitas lain yang sama-sama berbasis pendidikan keguruan. UPGRIS mewajibkan
mahasiswanya untuk mengikuti magang sampai tiga kali. Magang satu dilaksanakan
selama 1 minggu, magang dua selama 2 minggu dan magang tiga selama 6 minggu.
Uswatun menuturkan
setiap tahapan magang memiliki tujuan yang berbeda. Pada magang 1 ditujukan
untuk pengenalan sekolah, magang 2 mulai
diperkenalkan dan mencoba membuat perangkat
pembelajaran guru, kemudian di magang 3 peserta magang sudah diminta untuk memainkan
langsung peran sebagai guru di sekolah latihan.
“Menurutku
cara itu baik agar kita bisa lebih paham. Namun, akan lebih baik lagi jika pada penempatan magang 1,2,3 tetap sama,
biar gak susah adaptasi lingkungan sekolah yang berbeda lagi” imbuh Uus sebagai
harapan kepada UPGRIS agar sistem pelaksanaan magang lebih baik lagi untuk adik
tingkatnya.
Penulis:
Andaru Mahayekti - Universitas PGRI
Finalis Citizen Journalist Academy - Energi Muda Pertamina Semarang
--and--

Komentar
Posting Komentar