beneran AKU ?
Memang jadi manusia
tanpa cita-cita itu susah. Apalagi jadi manusia tanpa patokan besok bakal
ngelakuin apa atau mau jadi apa. Tapi walaupun begitu, manusia dengan tipikal “begitu
berminat dengan sesuatu hal, pasti akan diusahakan sampai dapat” seperti aku
ini, sudah punya cerita tentang perwujudan tekad yang dalam satu sisi memang
merugikan orang lain dan menguntungkan diri sendiri. Contoh seperti awal-awal
kuliah aku bertekad untuk mendapatkan banyak teman supaya rencana ngetripku mulus tanpa banyak fulus. Yap dan
terjadilah. Rencanaku berhasil!
Jepara, Kudus,
Magelang, Kaliwungu, Kendal, Purwodadi, Solo, Ungaran, Bandungan sudah aku
tapaki dengan tanpa risau persoalan nginep dan budget tipis. Persoalan itu sudah dibabat abis oleh kebaikan teman-temanku,
yang dengan baik membukakan pintu rumah mereka untuk menampung anak rantau yang
pengen tau kota orang. Sebagai tamu, persoalan makan pun dijawab dengan tepat
oleh kebaikan orang tua mereka yang ikut andil dalam perwujudan tekad yang
semena-mena ini.
Tapi setelah membaca
tweet itu tekadku berubah. Aku harus melakukan sesuatu. layaknya ajang show up, ajang menampakkan diri yang
selama ini berhibernasi dari panggung sandiwara kalau kata Bulek Nike Ardilla. Dengan
tujuan, ya agar orang tuaku melihat bahwa yang mereka keluarkan demi titipan
Tuhan tak sia-sia. Misalnya, aku harus naik panggung, masuk tv, dapet mendali,
atau hal-hal lainnya yang kurasa memang belum pernah kurasakan sebelumnya dan
tak pernah kubayangkan atau sebatas mimpi belaka tapi akan kucoba. Atau namaku
haruslah masuk majalah atau koran atau internet atau yang lainnya sampai
akhirnya sesi pamer kepada orang tuaku pun akan terjadi. Minimal aku harus
mengikuti lomba tingkat RT, tingkat kelas atau tingkat jurusan dengan tanda
bukti bahwa aku pernah mengikuti perlombaan itu
Tekad itu aku awali dengan
mendekati teman-teman lawasku yang juga numpang hidup di Semarang tapi beda
universitas. bukan maksud datang pas lagi butuh aja si (Tapi emang butuh og la
gimana) :D. Diluar itu, mereka juga selama ini tidak memutuskan untuk menghubungiku
jadi ya, sah saja untuk menjadi pemulai
dalam memperbaiki tali silaturahmi, insyaallah baik lah hukumnya dalam Islam
hehe.
Mereka yang notabene adalah anak organisasi dan
sering mengikuti kegiatan dengan kampus lain. Menyarankanku untuk ikut CJA (Citizen Journalist Academy) karena
mereka juga diutus untuk menjadi delegasi mewakili BEM Hukum UNTAG. Awalnya waktu
dijelasin, aku cuma ber-ya, ya dan ya. Gak ada yang nyantol dipikiran.Tapi setelah
aku membuka sendiri akun instagram @campuscj6, mengertilah aku kalau Citizen Journalist Academy adalah ajang
pencarian 90 anak muda kreatif yang terbagi di Jakarta, Semarang dan Balikpapan.
Untuk mengikuti audisi Citizen Journalist
Academy salah satu tahap pertamanya adalah dengan mengunggah CV dan foto di
alamat email CJA.
Malam itu aku dan
teman-temanku menggelar online conversation,
satu temen aku ada yang nyeletuk mau ambil news
presenting, tapi 5 menit kemudian dia membatalkan niatnya dengan alasan
“ahh gak jadi ahh nanti news presenting,
bakalan ketemu dan bertanding sama anak komunikasi UNDIP yang kalau ngomong ceplas-ceplos otak sama mulut udah
kaya kembar siam berjalan beriringan, nah kita otak sama mulut aja kadang
berantem”.
Aku yang waktu itu
sedang berada di Batang sontak ngakak online. Membaca alasan temanku, dengan
sadar aku juga mengiyakan dan berpikir “oh iya nanti bakal ketemu anak-anak
univ lain, yang pastinya lebih-lebih di bidangnya apalagi yang memang kuliah
dalam bidang itu”. Down.
News presenting
memang tidak masuk pertimbanganku dalam memilih bidang di CJA, ya karena aku
bukanlah public speaker yang baik dan
sering banget ngeblank kalau
dihadapan orang-orang baru. Sekarang yang jadi pertimbanganku adalah videography dan menulis. Aku sedikit
bisa di bidang videography dan sering
dimintai tolong teman dan kakak tingkat untuk mengedit tugas video mereka. Tapi
itupun edit sederhana seperti menggabungkan video, atau memberi sound efek pada video. Dan itu pasti
kalah jauh dengan anak UDINUS yang pinter-pinter dalam bidang teknologi. Ahh aku
selalu down mikirin anak-anak dari
kampus lain.
Akhirnya dengan modal
nekad aku memilih bidang menulis dengan pertimbangan aku adalah seorang mahasiswi
bahasa Indonesia yang emang materi kuliah lebih difokuskan ke menulis, dan
hobby nulis caption instagram, nulis chat, dan nulis cerpen-cerpen ngambang
di laptop juga jadi pertimbangan untuk diriku sendiri.
Setelah dua hari sudah
ngirim CV, perasaan tak percaya diri pun datang lagi karena dua orang temanku
sudah menerima email balasan dan aku
belum. Yah sempat dalam hati “gapapa lah mungkin belum saatnya ikut”. Tapi sehari
berikutnya percaya diri datang lagi sudah mendapat email balesan dan baru sadar ternyata yang mendaftarkan CV ke CJA
pasti semua mendapat email balasan. Yahh
jadi malu udah suudzon duluan hehe.
Hari H workshop dan
audisi pun tiba, padahal aku dan teman-teman sudah datang tepat waktu tapi
ternyata tetap tidak kebagian kursi, kami pun berdiri. Wah ternyata persaingan
hari pertama memang ketat dan diikuti banyak orang. Dapat kabar kalau audisinya
saja sudah diikuti oleh seribu lebih peserta. Down lagi.
Entah mimpi apa aku di
hari-hari sebelumnya, di pengumuman audisi sesi pertama ternyata namaku di
sebutkan oleh mbak MC yang samar-samar aku ingat waktu itu memakai dress merah dan jaket hitam. Rasa seneng
dan gak percaya bahwa aku lolos gak bisa diungkapin.
Aku pun siap untuk hari
esok, audisi tahap-tahap berikutnya meski tanpa kedua temanku, dan sendirian. Tapi
aku siap demi pengalaman baru,demi teman baru, dan demi lingkungan baru.
Hari berikutnya, aku
berkenalan dengan orang-orang baru, menanyakan apa bidang mereka dan tentu saja
menanyakan dari univ mana, kebanyakan dari UNDIP dan UNNES. Universitas yang
menolak aku haha. Aku juga berkenalan dengan orang yang ternyata kakak angkatan
di universitas meskipun beda jurusan. Dan bertemu dua temanku yang sudah aku
kenal. Oke ternyata aku tidak sendirian.
Saat audisi panitia
memakaikan kami kertas yang ditempel di dada. Itu yang membuat aku membayangkan
audisi ini nyeremin seperti di tv-tv eh ternyata seharian sudah mengikuti
audisi ini aku enjoy sekali karena
acaranya yang kalem dan tidak menyiksa juga tidak semenakutkan di pikiran, kecuali
waktu sesi FGD (Focus Group Discussion)
aku diampit oleh 3 anak UGM sekaligus dan 2 anak UNNES. Rasanya aku jadi yg
paling bodoh dan yang paling tidak ter-up-to-date
dengan informasi-informasi yang sudah selayaknya seumuranku mengerti. Aku yang
mengutarakan sedikit pendapat masih kurang banyak dengan mereka yang kritis dan
aktif. Hufft. Hal ini menjadi peringatan bahwa aku harus lebih belajar lagi dan
up to date dengan hal-hal baru yang
ada.
Tapi diluar sesi FDG,
aku bahagia karena mendapat ilmu baru dari coach
dan tentu saja dari orang-orang baru dari lingkungan yang berbeda dan disatukan
dalam satu lingkungan yang sama. Aku juga belajar satu hal seperti yang
dikatakan oleh coach Ryan Wiedaryanto
dalam sesi sharing yaitu “ don’t
think to hard, buat sesuatu yang terjadi” yap benar anak-anak univ lain ternyata
tidak sesombong dan seangkuh yang aku pikirkan walaupun mereka ahli dalam
bidangnya.
Tuhanku memang Mahaoke
banget, apalagi di setiap rencananya yang mengejutkan. Di sesi pengumuman 30
besar namaku disebutkan lagi. Ahh nikmat rasa sedih, gembira, dan heran mana
lagi yang aku dustakan. Bangga sekali rasanya bisa mengalahkan seribu lebih
orang yang mendaftar sampai menjadi satu dari 30 orang-orang hebat. Bisa dikatakan
seperti mimpi dinikmatnya ketiduran, sangat membekas dan nyata.
Sampai tulisan ini dibuat
aku baru sadar ternyata Tuhanku. Allah, telah mewujudkan tekadku yang sudah ada
diangan-angan dalam satu acara bernama Citizen
Journalist Academy. Bagaimana tidak tekadku untuk show up
ke orang tuaku dengan cara mengikuti lomba tingkat RT, jurusan atau fakultas
itu dijawab langsung dengan aku lolos menjadi yang tepilih di audisi CJA yang
bisa dikatakan bahwa audisi CJA adalah lomba tingkat provinsi Jawa Tengah, yang
berubah jadi lomba tingkat nasional jika aku lolos 15 besar Semarang. Semoga. Tekadku
untuk naik panggung juga sudah diwujudkan karena kemarin waktu pengumuman
semifinalis aku juga naik panggung dan disaksikan oleh ratusan orang yang
datang. Dream comes true, “tekad”
jadi nyata.
Aku memang tidak percaya
kebetulan tapi aku percaya keberuntungan dan takdir Tuhan. Karena keberuntungan
dari Tuhan adalah tingkatan tertinggi yang mengalahkan kecerdasan dan lainnya. Aku
percaya melalui Citizen Journalist
Academy ini, Tuhan menyuruhku untuk memperbaiki diri dan belajar ilmu baru
di lingkungan baru.
Walaupun aku sudah
bangga dengan diriku sendiri dan sedikit orang tuaku juga sudah tertular karena
kemarin melihat iklan di Indosiar tentang acara Citizen Journalist Academy. Dan tahu bahwa anaknnya menjadi 30
orang hebat yang ada di Semarang. Tidak lantas membuatku besar kepala karena 30
bukanlah angka terakhir, aku harus lebih meningkatkan lagi kemampuanku dan
tetap konsisten untuk terus menghasilkan karya dan semoga Tuhanku. Allah, tetap
menjadikanku dalam golongan orang-orang yang beruntung untuk masuk di bagian 15
orang hebat selanjutnya. Amin .
--and--
Penulis:
Andaru Mahayekti - Universitas PGRI
Finalis Citizen Journalist Academy - Energi Muda Pertamina Semarang
Tulisan ini pernah dimuat di http://citizen6.liputan6.com/read/3122245/gadis-ini-bikin-bangga-orang-tuanya-terpilih-jadi-finalis-cja

Komentar
Posting Komentar