TOKOH AKU ?
20 tahun sudah dipercaya
Tuhanku. Allah, untuk menjadi ciptaanNya yang beruntung disebut manusia bukan
yang lain. Di bumi, dititipkan oleh Tuhan kepada dua orang yang secara tidak sengaja
memintaku untuk memanggil mereka Bapak Ibu, bukan Ayah Bunda atau Mamah Papah. Dititipkan
dengan satu manusia lain yang dengan sengaja Bapak Ibu menyuruhku memanggilnya
Mas.
![]() |
Bertahun-tahun sampai akhirnya 20 tahun, kebutuhanku dipasok oleh dua orang utusan Mahaoke itu. Mereka terus saja memberi tanpa bertanya yang bakal aku berikan untuk mereka. Sampai akhirnya aku menemukan ini
Selebtweet yang
terkenal karena motovlog, blog, buku,
dllnya itu. Pernah mendongengkan kisahnya dalam Draw My Life dalam akun youtubenya. Hidup susah, penuh kebingungan
tapi pantang putus asa dan selalu berusaha. Hal besar itulah yang membuat jiwaku
dalam keadaan tak jelas atau semrawut
(kata orang Jawa bilang) saat membaca tweetnya. Pasti jiwa yg semrawut kayak gini tidak akan terjadi kalau
misalnya yang membuat tweet adalah teman satu kosanku. Mungkin malah akan kujawab “hihh apaan sih
koe! gak ono jadwal kuliah wae turu terus, petingkah og.”**
** “hih apaan sih kamu,
gak ada jadwal kuliah aja kamu tidur mulu, gaya gayaan kok”
Berapa
usiamu ? “20, April kemarin” Sudah
menemukan kariermu ? “kemarin daftar content
writer dan ojek online sih, tapi
belum ada panggilan. Jadi belumlah” Sudah temukan passionmu ? “belum, aku orangnya bosenan kok gimana dong ?” Lalu sedang
apa kamu sekarang ? “yaiiilahhh ya baca tweetmu lah bang” L
Yap begitu kiranya
kondisiku pas baca tweet itu. Seperti
digigit semut saat melamun, refleks pikiran flashback
dengan yang kulakukan bertahun-tahun sudah. Dan ternyata aku sadar. Bahwa, yang
kulakukan itu. Tak ada. Ya, tak ada yang kulakukan selain kegiatan umum di
rumah, dan kegiatan umum di sekolah. Terhitung, lomba pun tak pernah ku ikuti. Pernah
dulu waktu ku TK. Tak patut rasanya kalau masih di ceritakan.
Suatu kebanggaan yang
pernah aku lakukan adalah bisa lolos seleksi masuk dua fase pertumbuhan di
sekolah-sekolah favorit yang bertaraf rintisan sekolah internasional pada zaman
itu. Aku memang tak pernah menyukai pelajaran formal yang menuntut hafalan dan
pemahaman. Tapi aku menang dalam tes psikotes yang menuntut logika. Tapi rasa
bangga ini sepertinya belum menular ke Bapak Ibuku. Hmm~
lanjut ke "beneran AKU ?"


Komentar
Posting Komentar