Membalas Surat Dari Pak Naka

Dear Pak Naka yang disayang istri. Surat ini saya buat  sebagai balasan dari surat Pak Naka yang sudah susah payah dibuat seperti embun di pagi hari yang susah payah menyegarkan udara Semarang.
Hari ini senin 24 oktober 2016 pukul set 7 pagi saya dikabarkan  baik-baik saja dengan secangkir cangkir yang harusnya terisi namun ternyata tidak, dengan kipas angin yang selalu memutar, dan dengan kasur kosan yang sudah saya anggap kembar siam. Lalu bagaimana kabar Pak Naka? Apakah secerah sabtu pagi kemarin ? Atau semendung senin ini ? Ahh ntahlah mungkin hanya bapak dan tuhan yang tau.
Duhai Pak Naka dosenku yang budiman yang lebih mirip Dodit SUCI 4. Sepertinya tidak perlu dengan kata pertama-tama untuk mengawali surat ini karena nantinya tidak akan adakata  kedua-dua. Namun untuk memenuhi 5000 karakter sepertinya saya perlukan itu. Jadi Pak Naka, pertama-tama saya ucapkan bahwa untuk membalas surat ini saya butuhkan waktu satu minggu untuk bersemedi riwa-riwi warung kopi, dan icap-icip cafe murah ala mahasiswi. Entah apa yang mengganjal otak saya hingga membalas surat Pak Naka yang begitu ambigu untuk ditelaah amat susah,sedangkan amat saja tak pernah susah. Padahal setiap hari saya membalas chat yang sama sama absurdnya dengan surat Pak Naka.upps
Jadi begini Pak Naka. Sebagai seorang mahasiswi penganut ajaran media massa yang sudah bahagia namun belum dibahagiakan oleh ekspektasi yang berkelebat layaknya selebritis papan atas –apaini. Setelah saya membuka kamus kehidupan saya,ternyata kata ditinggal amatlah berarti mennyedihkan apalagi jika ditinggal oleh Pak Naka karena bukan hanya kesedihan yang saya dapat namun juga tugas yang bikin otak memutar seperti inilah yang akan saya dapatkan.
Dosenku yang suka ngopi di warung kopi bersama istri. Kali ini saya akan berterus terang mengenai pertanyaan bapak yang terselip pada ribuan karakter yang telah Pak Naka ketik diselembar kertas putih fotokopian. Sepertinya Pak Naka sangat ingintahu kenapa saya jarang sekali membaca ataupun berbicara, karena untuk Pak Naka ketahui sebernarnya saya sangat suka membaca juga berbicara namun diwaktu yang tepat. Diwaktu yang tepat maksud saya adalah ketika di kamar dan sendirian haha.
Pak Nakaku yang dimiliki semua mahasiswa PBSI. mungkin saya akan mengetik sedikit kenapa saya jarang sekali mengeluarkan ide di kelas, yang pertama ide muncul di kala saya sendirian seperti saat saya mengetik surat balasan ini, saya sedang berada di kamar kosan sendirian dengan laptop yang tidak bermulut namun bisa bernyanyi, dengan kipas yang tidak punya tangan tapi selalu bisa mengipasi, dan dengan kasur yang tak berlemak ataupun berdaging namun empuk untuk ditiduri.
MaafPak Naka mungkin surat saya ini tidak selucu surat yang diketik teman-teman lain karena sekarang sudah pukul 10 lebih 04 pagi sekitar 46 menit lagi kita akan bertemu dikelas pak. Dan saya rasa menulis surat ini sudah seperti saya ikut trabas montor trail, tidak peduli betapa melungkungnya relief bumi tetap saja saya trabas.--ini saya ngomong apaan haha.
Pak Nakaku yang bikin gakuku ganana. Niatan saya untuk bertahan hidup adalah agar tetap hidup pak hehe. Tapi, selain itu ada hal lain yang membuat saya bertahan dari satu sel sperma sampai jadi remaja cewek berbobot 75kg dan tinggi 170cm ini.
Motivasi saya kuliah ya pak? Hmm apa ya? Sepertinya agar saya menyandang setatus anak kuliahan, bertemu teman-teman dari luar daerah saya yang begitu-begitu saja. Dan mungkin setelah saya kuliah saya bisa merubah daerah saya yang begitu-begitu saja menjadi begitu-begitu saja pangkat dua.
Pak Nakaku yang salalu manis dengan rambut klimis dan kumis tipis. Pak Naka tidaklah harus datang ke kelas membawa balon rupa rupa warnanya karena jika meletus balon hijau hatiku bakal kacau pak. Tak harus pula membawa permen sunduk, permen kaki, atau mie lidi. Jika bapak datang pastilah kita akan senang. Namun mungkin Cuma senang di wajah namun beda di hati haha, maafkan pak namanya juga mahasiswi.
Pak dosenku yang mungkin sekarang sudah bosan untuk membaca surat balasan ini karena semakin larut semakin absurd. Ingin saya akhiri surat ini namun saya belum bisa menemukan kata kata puitis yang tepat untuk mengakhiri surat ini namun dikarenakan saya lapar akhirnya saya menyudahi surat ini.
Terimakasih sudah menyempatkan membaca surat balasan yang gak penting dan berbingkai pink. Salam manis dari mahasiswamu yang gak pernah pakai pensil alis, punya senyum gak manis, dan bodi gendut abis gak tipis.
Oke sekian pak dadahhhhhhhhhh :*


Komentar

Postingan Populer